بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ
JAUHKANLAH PENYAKIT PUTUS ASA
.
Dalam
realita lain, tatkala sebuah penyakit sedang mendera, penderita hanya
pasrah total terhadap penyakit tersebut. Seharian dihabiskan dalam
tangisan semata, tanpa usaha dan upaya. Seolah-olah harapan sudah
tertutup rapat.
Atau bisa saja dalam kehidupan rumah orang tua merasa capek, manakala melihat sang buah hatinya berulah, bandel dan nakal.
Banyak petuah telah diupayakan agar sang
anak menyadari pentingnya berbuat santun. Tapi apa dikata, ternyata sang
anak justru melawan menentang. Dia tetap bandel, nakal dan urakan.
Menghadapi kenyataan ini, terpaksa sebagai orang tua hanya mengelus
dada, bersabar. Allah berfirman :
“Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir“ (QS. Yusuf: 87)
Itu sebagian potret sikap
keterputus-asaan, yang terkadang menyelinap hinggap pada seseorang.
Semua rasa pesimis tersebut harus dipupus. Karena, Allah pasti
memberikan pertolongan dan jalan keluar bagi yang mau berusaha.
|
Langkah yang perlu diambil
Untuk melibas penyakit putus asa
|
1. Memantapkan Keimanan Terhadap Qadha Dan Qadar
Ini merupakan faktor penting untuk bisa menenangkan hati kaum Mukminin. Bahwa apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi. Sebaliknya, apabila Allah tidak menghendaki, pasti tidak akan terjadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:Rasulullah Shallallahu wa sallam bersabda.Tiada satu pun bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu.Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. [QS. Al-Hadid :22-23]
Allah telah menuliskan takdir makhluk-makhluk sebelum penciptaan langit dan bumi selama lima puluh ribu tahun. [HR Muslim, 4797 dan at Tirmidzi, 2157]
|
2. Berbaik Sangka Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Inilah salah satu kewajiban seorang
muslim kepada Allah. Berbaik sangka akan membuka pintu harapan, dan
dapat mengenyahkan bisikan putus asa.
Ingatlah, sikap berburuk sangka
bertentangan dengan tauhid, keimanan kepada Allah dan ilmu serta
hikmahNya. Allah mengingkari orang-orang yang berburuk sangka kepadaNya.
Allah berfirman :
…… mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. . [Ali Imran : 154]
|
3. Memanjatkan Doa
Seberat apapun masalah yang sedang
menimpa, seorang hamba tidak sepantasnya berputus harapan dari rahmat
Allah. Semua permasalahan yang menghimpitnya harus dikembalikan kepada
Allah.
Kita wajib bersimpuh memanjatkan doa,
berupaya sekuat-kuatnya dan bersabar. Dengan harapan, Allah akan
melenyapkan kesusahan ataupun cobaan yang sedang menimpa.
Dalam perang Badr, perang pertama dalam
Islam; tatkala melihat sedikitnya jumlah pasukan kaum Muslimin dan
minimnya persiapan mereka, sementara musuh mempunyai kekuatan lebih
besar, maka Rasulullah berdiri memanjatkan doa.
Cukup lama Rasulullah berdoa, sampai-sampai pakaian bagian atas beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam jatuh dari pundaknya.
Abu Bakar ash Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu
merasa kasihan dan menghibur beliau dengan berkata: “Allah tidak akan
menyia-nyiakanmu sedikit pun, wahai Rasulullah,” dan kemudian datanglah
bantuan dan kemenangan dari Allah lewat firmanNya :
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankanNya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut“. [QS. Al-Anfal :9]
Ketika seorang hamba berdoa kepada Allah,
memohon agar permasalahan yang menghimpitnya selesai, pada dasarnya ia
telah membuktikan tauhidnya. Dan tauhid yang benar akan menyelamatkan
dari jeratan fitnah serta ujian.
Jika menelaah perjalanan hidup Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat serta generasi Salaf, kita
akan mengetahui betapa mereka sangat bertumpu dengan memanfaatkan
kekuatan doa.
Betapa mengagumkan, dan sekaligus membuka
tabir, bahwa diri kita kurang menekuni ibadah yang satu ini. Betapa
banyak masalah, yang bisa telah terselesaikan berkat doa kepada Allah
Ta’ala?
Tentunya, doa ini harus dibarengi juga
dengan upaya memperbaiki diri. Sebab, bisa jadi, kegagalan atau musibah
yang menimpa seorang hamba, lantaran kurangnya ia dalam memperhatikan
aturan Allah.
|
4. Meneguhkan Tawakkal Kepada Allah Subahnahu Wa Ta’ala
Kekuatan yang hakiki adalah kekuatan hati
dan kemampuan untuk bertahan diri. Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah,
sesungguhnya tawakkal termasuk salah satu faktor yang kuat dalam
membantu mewujudkan cita-cita (keinginan) dan menepis perkara yang tidak
disukai.
Ia merupakan motivasi yang paling kuat.
Hakikat tawakkal, ialah ketergantungan hati hanya kepada Allah semata.
Usaha yang dilakukan tidak memiliki pengaruh, jika hati kosong dari
penyerahan diri kepada Allah dan bahkan cenderung kepada selainNya.
Sebagaimana tidak bermanfaat perkataan
orang “aku bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi,
ternyata dirinya sangat tergantung, pasrah dan percaya kepada selainNya.
Tawakkal pada mulut memiliki makna sendiri, dan tawakkalnya hati
mempunyai makna yang lain.
Oleh karena itu, al Hasan Bashri mengatakan :
“Sesungguhnya, tawakkal seorang hamba kepada Rabb-nya adalah, ia meyakini bahwa Allah itu menjadi sumber kepercayaan dirinya”
Dalam kesempatan lain, beliau menyatakan,
Allah menjamin rezeki bagi hamba yang menyembahNya, dan kemenangan bagi
orang yang bertawakkal dan memohon pertolongan kepadaNya, serta
kecukupan bagi orang yang menjadikan Allah sebagai pusat dan tujuan
utama.
Orang yang cerdas lagi pintar, ia akan
memikirkan perintah Allah, pelaksanaannya dan taufik dariNya, bukan
menunggu-nunggu jaminan dariNya. Sesungguhnya Allah menepati janji lagi
jujur. Siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah?
|
5. Memiliki Tekad Yang Tinggi
Seorang hamba akan mendapatkan sesuatu
sesuai dengan kadar tekad dan semangatnya. Orang yang benar-benar ingin
menggapai satu tujuan, pasti akan mengoptimalkan segala daya upaya dalam
mewujudkannya.
Segala yang berpotensi menghalangi
pencapaiannya, akan disingkirkan, demi mempercepat dan melempangkan
jalan menuju tangga kesuksesan yang selama ini diidamkannya. Detik-detik
waktunya selalu disibukkan dengan hal tersebut.
Mencari-cari kesempatan dan sarana yang
bisa membantu pencapaian keberhasilannya. Pikiran dan kata hatinya juga
larut dengannya. Karena ia mengetahui, “keberhasilan sesuai dengan kepenatan yang dilalui”.
|
6. Sabar Dan Bersikap Tenang
Kita mesti ingat, semua masalah menuntut kesabaran dan kebesaran jiwa. Yakinkah, bahwa perkara-perkara yang menyulitkan hanya “takluk”
dengan kesabaran. Demikian juga dengan ketenangan, ia sangat berperan
membantu seseorang saat melewati kesulitan yang menghadangnya. Kesabaran
ini tiada batas. Ia dibutuhkan sampai ajal tiba.
Kita harus memahami, bahwa ketentuan takdir pasti datang. Karena
seorang hamba, ia tidak lepas dari dua kondisi. Yaitu yang
menggembirakan dan keadaan yang sangat tidak disukainya.Misal kondisi pertama, ia dikaruniai kesehatan, harta, kedudukan, berbagai kenikmatan lainnya. Dalam kondisi yang menggemberikan ini, ia pun diharuskan bersabar. Yakni :
- Tidak tertipu dengannya, dan jangan sampai kegembiraan yang diarihnya menyeretnya berbuat takabur, jahat dan sebagainya.
- Tidak terlalu larut atau lupa diri dalam mencapainya, karena akan membahayakannya. Orang yang ghuluw, hakikatnya mendekatkan diri dengan perilaku negatif. Jika mendapat kegembiraan, ia bersabar dalam melaksanakan hak Allah dan tidak melalaikannya.
- Menahan diri tidak memanfaatkan kenikmatan yang telah diraihnya untuk perkara yang diharamkan
“Ujian musibah dapat dilewati oleh orang mukmin dan orang kafir. Namun ujian dengan kenikmatan, tidak ada yang mampu bersabar dengannya, kecuali orang-orang yang jujur keimanannnya“
Adapun dalam kondisi kedua, yaitu keadaan
yang tidak disukainya. Ini terbagi menjadi dua macam. Yakni yang
berkaitan dengan kehendaknya, seperti mengerjakan ketaatan ataupun
maksiat. Dan jenis kedua, yaitu tidak berhubungan dengan kehendaknya,
misalnya datangnya musibah.
Oleh karenanya, Allah memerintahkan untuk mencari bantuan melalui kesabaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu‘. [QS. Al-Baqarah :45]
Penyebutan sabar dalam Al-Qur`an tidak kurang dari tujuh puluh kali, dan seluruh nya dalam bentuk pujian. Di antaranya, menghubungkan kesuksesan dengan kesabaran (QS. Ali Imran ayat 200), menghubungkan kepemimpinan dalam agama dengan kesabaran dan keyakinan [QS. Sajdah ayat 23].
|
7. Menumbuhkan Sifat Optimisme Dan Berpikir Positif
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
sangat menyukai sikap tafa-ul (optimis) dan membenci tasya-um (pesimis).
Dalam Shahih al Bukhari, dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
Tidak ada penyakit yang menular sendiri, dan tidak ada kesialan. Optimisme (yaitu) kata-kata yang baik membuatku kagum.
Al Hulaimi rahimahullah mengatakan:
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam suka dengan optimisme, karena pesimis merupakan cermin persangkaan buruk kepada Allah tanpa alasan yang jelas.Optimisme diperintahkan dan merupakan wujud persangkaan yang baik. Seorang mukmin diperintahkan untuk berprasangka baik kepada Allah dalam setiap kondisi”
Sesungguhnya, kehancuran semangat
merupakan kerugian yang tidak bisa diukur dengan materi. Berpikir
positif dan semangat untuk berkompetisi harus selalu menyala dalam kalbu
setiap muslim, jangan sampai pudar.
Demikian juga, hendaknya kita melihat
limpahan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak pernah putus.
Terutama nikmat iman dan Islam. Kalaupun Allah Subhanahu wa Ta’ala
menunda kenikmatan yang lain, bila kita mau jujur, kenikmatan yang sudah
kita terima dariNya masih jauh lebih banyak.
Jika ada satu masa yang menghimpit, maka
lihatlah, sudah berapa lama kita berada dalam keadaan bugar, leluasa
tanpa masalah yang berarti?
Renungkanlah!
|
8. Menelaah Biografi Salaful Ummah
Yang dimaksud dengan Salaful Ummah, yaitu para sahabat Nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Generasi pertama, para pembela Islam dan
pemikul risalah kepada generasi berikutnya. Mereka adalah manusia yang
paling kuat keimanannya, paling bersih hatinya, paling tinggi tingkat
tawakkalnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jika menyelami kisah hidup mereka yang
penuh cahaya, kita akan berkesimpulan, bahwa perjalanan hidup mereka
tidak selalu mulus, penuh ujian dan pengorbanan disertai ketabahan yang
tinggi saat kalah oleh musuh dalam membela kebenaran.
Menelaah peri hidup mereka, akan mampu
menambah keimanan, mencerahkan hati. Juga akan mengantarkan kepada
pemahaman, jika kehidupan itu tidak steril dari onak dan duri. Jalan
kehidupan tidak selalu berhiaskan mawar yang semerbak mewangi, tetapi
ada saja halangan dan ujian menghadang, ataupun mungkin berujung pada
kegagalan.
Secara umum, Allah menegaskan manfaat
kisah-kisah para nabi dan rasul sebelumnya yang mampu juga meneguhkan
hati dan memberikan secercah harapan. Renungkanlah firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala :
Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. [QS. Hud :120]
Perenungan ini akan memacu semangat baru
dalam mengarungi kehidupan yang terjal. Sebab ternyata ia tidak
sendirian mengalami kepahitan, bahkan orang-orang terbaik yang pernah
berjalan di muka bumi ini, semua pernah merasakan kepahitan.
|
9. Membekali Diri Dengan Ilmu Agama
Orang yang berilmu itu lebih dahsyat
dirasakan beratnya oleh setan daripada ahli ibadah yang yang tak
berilmu. Tipu daya setan lemah di hadapan orang yang berilmu. Muadz bin
Jabal Radhiyallahu ‘anhu mengatakana,
“Ia (ilmu) adalah teman dalam keadaan bahagia dan kesusahan, serta senjata di hadapan musuh“
|
Demikian beberapa langkah, agar kita mampu memupus putus asa.
Kuatkan tekad, yaitu dengan selalu memiliki sifat optimis tak putus harapan,
Bercermin kepada orang-orang yang sukses melewati rintangan.
Jauhkan hati dari sifat kerdil, karena ia hanya akan menambah kelemahan.
Kuatkan tekad, yaitu dengan selalu memiliki sifat optimis tak putus harapan,
Bercermin kepada orang-orang yang sukses melewati rintangan.
Jauhkan hati dari sifat kerdil, karena ia hanya akan menambah kelemahan.
|
Salam Silaturrahim Dan Ukhuwah Fillah.
______
Footnote
[1]. Al Fawaid, 149.
[2]. HR al Bukhari (10/181) dan Muslim (2224).
[3]. Fathu al Bari (10/226).
[4]. Diriwayatkan Ibnu ‘Abdil Barr dalam al Jami’ (1/65)
______
Footnote
[1]. Al Fawaid, 149.
[2]. HR al Bukhari (10/181) dan Muslim (2224).
[3]. Fathu al Bari (10/226).
[4]. Diriwayatkan Ibnu ‘Abdil Barr dalam al Jami’ (1/65)
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar